Selasa, 18 Desember 2018

Tugas 6 Dasar Penulisan Multimedia

 Feature Radio

Nama stasiun radio : Sinam FM
Frekuensi/web : 101.1 FM
Format program : Feature Radio
Waktu tayang : Selasa, 18 April 2016, 12.00 WIB
Topik : Musisi Jalanan
Tema : Ibu Kota Punya Cerita
Transkrip
*Backsound (Dewa 19 – Risalah Hati)*
Announcer : 101.1 Sinam FM Jakarta, mau gaul?dengerin kita
kita balik lagi bareng gua Yudha Pangawasa alias Adli tentunya dalam program kesayangan “Ibu Kota Punya Cerita” cerita kali ini datang dari sisi timur ibukota jakarta dimana terdapat sekelompok musisi jalanan yang mengubah suara bising kendaraan menajdi suara angklung yang indah dan unik.
Narator : Jakarta adalah sebuah kota kecil yang menjadi pusat dari segala jalur yang terbentang di indonesia. Bagi warga yang tinggal di jakarta, kemacetan bukanlah satu hal yang lumrah pasalnya ibukota jakarta menjadi objek tujuan bagi setiap kalangan masyarakat yang tersebar di Indonesia. bayangkan saja wilayah yang bisa dibilang kecil inilah yang menjadi titik menjadi saksi hidup bagi kaum urban yang menggantungkan hidupnya. Manusia datang dan pergi, akan tetapi tanah yang kita pijak akan terus seperti ini. Disisi timur Jakarta inilah terdapat sekelompok musisi jalanan yang kesehariannya mengamen di pinggir jalanan tepatnya diperempatan lampu merah jalan raya ciampe berbeda pada pengamen pada umumnya yang membawakan genre pop atau rock, kelompok ini membawakan genre tradisional satu lagi yang membuat mereka terlihat unik yaitu alat musik bukan lagi gitar,biola maupun botol berisikan beras melainkan angklung. Angklung adalah alat musik yang bernada ganda yang secara tradisional berkembang dalam masyarakat Sunda Pulau Jawa bagian barat. Alat musik ini terbuat dari bambu dibunyikan dengan cara digoyangkan bunyi dari angklung itulah yang disebabkan benturan dari pipa bambu sehingga dapat menghasilkan bunyi getaran dalam susunan nada dua,tiga, hingga empat nada dalam setiap ukurannnya biasanya angklung terbuat dari bambu berjenis hitam dan putih. Mereka yang mengaku pengamen angklung yang berasal dari Cilacap ini memiliki jalan cerita yang tidaklah mudah diawal mereka benar benar terbentuk bermula dari upaya mereka benar benar mencari nafkah hingga keputusan mereka yang diambil untuk merantau ke ibu kota 3 tahun silam. Para pengamen angklung ini tinggal di bataran kali ciliwung hanya dengan kontrakan sepetak berukuran 4 x 3 meter mereka berusaha berlindung dari teriknya panas matahari serta hujan mau tak mau tempat yang di jadikan rumah itu harus mau mampung 4-7 orang setiap harinya.

Reporter : Grup ini dibuat sejak kapan bang?
Narasumber : Sudah lama juga sih dari 96.
Reporter  : Sejarah singkatnya dong bang, dari awal
mulanya sampe sekarang ini gimana?
Narasumber : Pertama kali awalnya kita berdiri baru 4
orang kita dari karyawan terus ngumpul bareng akhirnya kita jadi satu akhirnya kita gabung kita ngamen di perapatan.
Reporter : Apa sih pak yang mendorong grup ini untuk
ngamen disini?
Narasumber : Kita sih dari rekan rekan kita aja ya kan
dari rekan kita menuju perapatan ini gimana , awalnya kita suka aja, kadang kadang di perepatan ini suka ngampung jalan di perampungangan.
Reporter : Jenis alirannya apa sih bang?
Narasumber : Musik angklung.
Reporter : Kenapa ambil musik itu bang?kenapa nggak
yg lain?apa karena unik atau yang lain?
Narasumber : Ya ini kan emang udah karena image kita sana dari Cilacap.
Reporter : Sejauh ini gmn reaksi seseorang di jalan
  kalo liat grup abang?
Narasumber : Orang orang biasanya pada ngasih dan
bilang “wah ini anak seni banget nihh hebat gitukan daripada pengamen yang lain” kita kan pake seragam musiknnya musik angklung gitu katanya.
Reporter : Kalau boleh tau pendapatannnya kira kira
  sehari berapa?
Narasumber : Kalau lagi sepi sepinya mah paling dapet cepe (100 ribu) kalau lagi rame mah dapet   200 ribu.
Reporter : Itu ngamennya tiap hari?
Narasumber : Iya kita setiap hari biasanya kita mulai  abis ashar ampe jam 6 sore.

Produser : Meski telah berdiri selama berjam jam namun pundi pundi uang yang dikumpulkan tidaklah selalu cukup untuk kebutuhan sehari hari mereka, tak seberapa jika dibandingkan dengan usaha yang mereka berikan untuk menghibur manusia yang lalu lalang dihadapan mereka. Ternyata keberanian mereka untuk menggantungkan nasib di ibu kota tidaklah selalu berbuah manis walaupun sejauh ini tidak ada penolakan dari masyarakat tidaklah menjamin berpengaruh terhadap jumlah mereka mengamen setiap hari.

Narasumber : Kadang suka ada panggilan juga kadang
sunatan kadang arisan gitu, kita selalu pake kartu nama kan.
Reporter : Kan banyak saingan tuh sama pengamen
  lainnya, harapan kedepannya gimana ya?
Narasumber : Ya itu kan rejeki masing masing ya itukan
kadang kadang juga, makanya kita biasa aja sama yang lainnya kita kan main musik ya namanya kehidupan ya begitu.

*Backsound *

Narator : Tak begitu banyak harapan yang mereka
miliki ujar David salah satu personil keroncong asal Cilacap tersbut dapat bertahan hidup sudah menjadi kebahagian bagi mereka.

*Musik angklung yang dimainkan pengamen angklung*

Announcer : Oke balik lagi gua Adli masih di Sinam
yang pastinya setia menemani kalian kawan kawan sinam yang kece kece, gmn tadi? Menarik kan kisahnya? Tentunya iya dong menurut gua tuh ya jelas unik bangetlah karena dari sendiri yang gua tau jarang banget, ada pengamen yang gua temuin itu pake alat musik tradisional hmmmmm banter banter juga gitar,biola, dan gitu atau ga botol yang diisi beras, garam sama gula tinggal kasih kuah sama teh celupnya aja kali ya?hahaha. Gua berharap kisah yang singkat tadi menjadi motivasi kita semua bahwa sesusah apapun lika liku kehidupan kita kita harus jalani dengan sabar tapi ngomong ngomong soal sabar gua salut banget sama orang orang yang kesehariannya yang mencari nafkah di pinggir jalan what ever the profesion.

*Backsound (Floria ft T pain – Low)*

Oke guys, udah ga berasa ini saatnya buat gua untuk pamit so thank you banget buat kawan kawan Sinam yang selalu setia semoga cerita tadi bermanfaat dan tetap stay tune 101.1 Sinam FM, see you and bye bye

Tidak ada komentar:

Posting Komentar